Seperti yang telah diketahui bersama enkripsi adalah proses mengamankan informasi dengan membuat informasi tersebut tidak dapat dibaca tanpa bantuan pengetahuan khusus. [1] Enkripsi disini biasa kita lihat dalam berbagai pengamanan data yang lebih luasnya lagi dalam pengembangan ilmu teknologi informatika.
Contoh Enkripsi: VDBD FLQWD NDPX
Kuncinya adalah “geser 3 huruf sebelumnya”
| A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |
| D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z | A | B | C |
Jawaban: SAYA CINTA KAMU
Huruf-huruf yang terurut seperti abjad pada baris pertama di atas adalah baris plaintext-nya, sedang huruf-huruf pada baris kedua merupakan chipper text-nya. Pada huruf-huruf pada baris kedua merupakan huruf-huruf yang sesuai abjad, namun huruf-huruf tersebut mengikuti kaidah kunci yang dirumuskan untuk membuka enkripsi sehingga dapat dibukan dengan ditemukan jawaban seperti di atas sesuai dengan pemecahan melalui kunci dengan chipper text.
Jika ilmu tentang enkripsi ini diintegrasikan pengertian garis besarnya dengan al-Qur’an, maka akan ditemui pengertian yang sama dalam menyembunyikan atau mengkodekan sebuah data. Di dalam al-Qur’an setiap huruf, bilangan, angka kalimat, ayat, surat, juz ialah enkripsi yang terlihat tidak beraturan; namun ketika menemukan kuncinya akan ditemui keteraturan yang sungguh menakjubkan yang sangat dahsyat sehingga manusia pun tak akan pernah bisa membuatnya. Dengan pemecahan enkripsinya saja telah banyak manusia yang menjadi mendapat pencerahan dan mendapatkan keimanan atau menambah kemimanannya lebih kuat.
Al-Qur’an memanglah sebuah kitab suci yang berhubungan dengan segala bidang di kehidupan ini, terutama pada ilmu pengetahuan. Saat ini telah banyak dan mungkin akan bertambah terus setiap bertambahnya waktu tentang pengungkapan kaitan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan al-Qur’an. Enkripsi al-Qur’an memang memiliki ciri tersendiri dalam mengungkapnya karena memiliki kekkhasan yakni berhubungan dengan segala bidang kehidupan, terlepas kita telah membuka enkripsi tersebut atau belum. Meski telah banyak yang mengungkapkan dengan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang digelutinya, ternyata al-Qur’an juga masih dapat dihubungkan sebagai penguat metode kebenaran pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang lainnya.
Bukti bahwa al-Qur’an di-enkripsi bisa kita lihat pada surat Ali-Imran ayat 190 berikut ini “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. Pada ayat tersebut kita dapat memahami penggalan “…dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda…” dari penggalan ini dapat ditemukan bahwa Allah memberikan tanda-tanda pada apa yang Allah ciptakan. Jika terdapat tanda-tanda berarti apa yang Allah ciptakan ini adalah masih ter-enkripsi adanya sehingga perlu cara mengetahui untuk membuka enkripsi yang Allah berikan dalam tanda-tanda tersebut.
Inilah yang dapat kita pahami kalau al-Qur’an pun terenkripsi, namun ada pula ayat di al-Qur’an sangat jelas perintah ataupun seruannya yang ditujukan agar lebih cepat diterapkan atau dijalankan. Dalam ayat yang berisikan perintah atau hal yang telah jelas pun terdapat hal lain yang masih bisa digali lebih dalam maksud Allah menurunkan ayat tersebut. Sehingga dapat kita pahami bersama al-Qur’an memanglah masih terenkripsi. Enkripsinya pun sangat unik dan memiliki ciri yang luar biasa karena dibuat oleh Yang Maha Luar Biasa. Keberadaan al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir merupakan mukjizat yang diwariskan dari Nabi Muhammmad SAW. Maka tak aneh jika ada yang menyebut al-Qur’an sebagai “Risalah Penghabisan”.[2] Karena sebagai penghabisan inilah kiranya al-Qur’an diperuntukkan untuk semua ummat Manusia di muka bumi tanpa memandang letak ataupun ras-nya, ini menurun dari perintah penyebaran risalah oleh Nabi Muhammad SAW memang diperuntukkan untuk ummat sekalian alam di muka bumi ini. Karena memiliki nilai universalitas inilah enkripsi al-Qur’an bila beberapa ahli mencoba memecahkannya dari berbagai keahlian keilmuannya akan ada banyak penguatan dengan keilmuan sang peneliti.
Bukti lain bahwa al-Qur’an di-enkripsi adalah banyaknya penemuan serta kajian penelitian sekarang ini yang membuktikan kalau al-Qur’an memang di-enkripsi sampai terbuka ada yang mau menelitinya dan mengkabarkan pada khalayak ramai tentang penelitiannya. Begitu banyak buku yang membahas tentang hal ini, yakni pembuktian kalau adanya penguatan di al-Qur’an tentang apa yang ada dan terjadi di kehidupan ini. Penelitian yang dilakukan dan dieksplorasi hingga akhirnya menghasilkan sebuah laporan yang sungguh luar biasa biasanya berhubungan dengan bidang ilmu yang digeluti oleh si peneliti. Sebagai contoh beberapa ilmuan Muslim di bidang Matematika akan mencoba mencari korelasi rumus, hokum atau isi dari ilmu Matematika dalam al-Qur’an. Ternyata seteah mendapatkannya, begitu menakjubkan setelah kita baca dan beliau yang mengkabarkan penelitiannya guna memperkuat keimanan akan mendapatkan pencerahan yang cukup besar dari Allah, dengan biasanya akan begitu saling terus menerus melakukan penelitian dan memberikan laporan tentang korelasi al-Qur’an dengan bidang ilmunya.
Dengan adanya korelasi disini, maka akan ditemui juga kebenaran tentang al-Qur’an yang dienkripsi. Dengan ini berarti pemahaman kita tentang keharusan kita memiliki keilmuan untuk mempelajari al-Qur’an dan mengambil hikmah darinya ialah suatu keniscayan yang seharusnya dapat kita lakukan. Begitu besarnya ilmu al-Qur’an, sehingga untuk menddalami lebih lanjut tentang al-Qur’an haruslah menguasai berbagai banyak ilmu pengetahuan, khususnya pada bidang pengusaan baha arab yang merupakan bahasa yang dipakai al-Qur’an.
By: Selamet Hariadi (Azzam Islamic Research UIN Maulana Malik Ibrahim)
sebuah tulisan dari jalan pembuatan buku “Kekuatan Enkripsi al-Qur’an”
Referensi:
Abdusysyakir, Ada Matematika dalam Al-Qur’an (Malang: UIN-Malang Press, 2006),
Fatchurrochman dkk, Inspirasi Al-Qur’an dalam Algoritma Alami (Malang: UIN-Malang Press, 2006),
Suhartono & Totok Chamidy, Rahasia Al-Qur’an dalam BioMetric (Malang: UIN-Malang Press, 2007),
Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Studi Al-Qur’an Komprehensif: Membahas Al-Qur’an Secara Lengkap dan Mendalam (Surakarta: Indiva Pustaka, 2008),
Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis (Jakarta: Pustaka Amani, 2001),
Prof. Dr. M.M. Al-A’zami, The History The Qurr’anic Text From Revelation to Compilation a Comparative Study with the Old and New Testaments (Jakarta:Gema Insani, 2005),
Muhammad Abu Salma “Sejarah Tafsir dan Perkembangannya”, dalam Eko Haryanto Abu Ziyad (ed.) Islamhouse.com, (2009),
Awadh bin Muhammad Al-Qarni, Agar Anda Tak Jadi Beban: Jalan Meraih Prestasi (Solo: Eramedia Intermedia, 2005),
Abu salma al atsari, Mukjizat Embriologi Di Dalam Al-Qur’an: petunjuk al-Qur’an terhadap sidik jari
___, Kuliah Subuh 10 ferbuari 2008, Masjid al Barokah